5 Tips Dalam Berinvestasi Apartement

Apartemen Green Pramuka Tidak Bermasalah

Lokasi, fasilitas, legalitas dan kualitas bangunan memang jadi pertimbangan utama dalam memilih apartemen. Tapi, hal “tingkat hunian” pun tidak dapat diabaikan, khususnya bila Anda melakukan pembelian apartemen guna dihuni sendiri. Soalnya, Anda tentu tidak mau bermukim di apartemen yang kosong, bukan? Di samping itu, kian tinggi tingkat hunian kian mudah menyewakannya.

Masalahnya, bagaimana memahami sebuah apartemen (yang masih dibangun) besok akan dihuni? Inilah sulitnya. Di negeri ini apartemen kadung menjadi instrumen investasi ketimbang digunakan sendiri. Karena tersebut saran dari ini mungkin dapat membantu Anda.

Pertama, lihat reputasi developernya dengan menggali tahu apartemen yang pernah dibangun. Cek ke lokasi, dihuni atau tidak. Lihat pun segmen pasar atau ekspatriat yang tidak sedikit menghuninya. “Kalau apartemen sebelumnya tidak jarang kali clear dan dihuni, bisa jadi besar apartemen yang kita beli sekarang pun begitu. Developer bakal berupaya mengawal reputasinya,” kata Deden.

Kedua, bandingkan harga sejumlah apartemen sejenis dengan menyaksikan benefit yang ditawarkan (kualitas bangunan, opsi material, desain interior-eksterior, perabot, aksesoris dan fasilitasnya). Pilih apartemen dengan kemudahan paling menyeluruh serta kualitas bangunan, desain interior-eksterior, opsi material, dan perabot sangat baik di kelasnya sebab paling berpotensi guna dihuni.

Fasilitas terbagi dua: di dalam dan di luar apartemen. Di dalam apartemen sebutlah empang renang, fitness centre, minimarket, salon, laundry, plus sistem ketenteraman dan keselamatan penghuni (lift, tangga darurat, pemadam kebakaran, satpam, CCTV, dll). Berbagai kemudahan itu mesti sesuai dengan jumlah menara dan unit apartemen. Kalau menaranya lima tapi kolam renang hanya satu, kemungkinan tidak sedikit yang emoh menghuninya.

Sedangkan di luar apartemen, kemudahan itu mulai dari perkantoran/tempat usaha, pusat belanja, lokasi tinggal sakit, sarana edukasi dan olahraga, sampai lokasi hiburan. “Makin menyeluruh dan kian mudah kemudahan itu diakses, kian besar bisa jadi apartemen dihuni. Soalnya, orang tak butuh ke mana-mana untuk mengisi semua keperluan dan gaya hidupnya,” kata Herman.

Karena tersebut pilihan tempat tidak mesti di pusat bisnis (central business district/CBD) seperti area segitiga emas Jakarta. Di wilayah laksana Kelapa Gading dan Lebak Bulus juga oke. Tengok saja apartemen Bona Vista (Lebak Bulus-Jakarta Selatan). Jauh dari pusat bisnis tapi mayoritas unitnya tidak jarang kali terisi, khususnya oleh ekspatriat Singapura. Soalnya, kemudahan di sekitarnya lumayan lengkap, mulai dari sekolah Singapura, Jakarta International School, sarana olahraga dan hiburan, lokasi tinggal sakit dan mal Pondok Indah, dan (kini) Cilandak Town Square.

Ketiga, lihat jumlah menara dan unit apartemennya. Kalau menara dan jumlah unit di masing-masing lantai tidak sedikit dan serba kecil, kemudian ada yang melakukan pembelian dua tiga unit sekaligus, bisa jadi besar apartemen itu tidak sedikit dibeli investor bukan end user. Begitu pula, kalau tidak sedikit unit apartemen dipasarkan lagi (formal atau lewat bisik-bisik) sebelum pembangunan jasmani tuntas, berarti yang membeli banyak sekali spekulan.

Keempat, bila melakukan pembelian apartemen mix used, lihat apakah apartemen berdiri di atas mal atau terpisah. Kalau di atas mal, pertelaan atau pembagian hak bareng (common property)-nya mesti jelas. Bila campur aduk antara mal dan apartemen orang ingin enggan bermukim di apartemen tersebut karena privasinya bakal terganggu.

Kelima, upayakan melakukan pembelian apartemen yang digemari ekspatriat. Pada lazimnya tingkat huniannya tinggi. Ekspatriat bule dan Jepang menggali apartemen dengan fasilitas, standar bangunan dan pengelolaan sekelas hotel berbintang, jumlah unit sedikit, tidak menyatu dengan mal, tenang, bersih dan jauh dari bau asap makanan.

Ekspatriat yang telah berkeluarga umumnya menyukai apartemen dua atau tiga kamar yang dekat dengan sekolah dan lokasi tinggal sakit, namun tetap gampang diakses dari lokasi kerja. Sedangkan yang sorangan memilih apartemen satu kamar yang dekat dengan lokasi kerja dan pusat hiburan. Sebaliknya ekspatriat India, Korea dan Taiwan oke saja dengan apartemen yang bersatu dengan mal, bioskop, bar, karaoke dan outlet makanan. Standar apartemen mereka pun tidak setinggi tuntutan ekspatriat bule dan Jepang.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of