Green Pramuka City Sudah Tak Lagi Bermasalah, Regulasi Pemerintah Semakin Membantu Pembenahan

Anda mungkin tidak asing dengan Green Pramuka City. Ya, ini karena apartemen hunian ini pernah tersorot pemberitaan karena permasalahan hukum bersama komika Mukhady alias Acho. Namun tenang saja, lain dulu lain sekarang. Green Pramuka City sudah menyelesaikan berbagai masalah hukum yang pernah terlibat.

Lebih jelasnya lagi mengenai Green Pramuka City. Ini merupakan apartemen strategis Green Pramuka City yang dibangun di atas lahan 12,9 hektar merupakan salah satu apartemen yang direkomendasikan. Apalagi bagi Anda yang sedang ingin mencari hunian di kawasan pusat, Green Pramuka City benar-benar bisa menjadi pilihan.

Konsep yang diusung oleh apartemen ini adalah Superblok, One Stop Living & Green Living Concepts bagi para penghuninya. Sementara itu, kesan strategi didapatkan karena memang lokasinya yang berada di pertemuan 3 wilayah Jakarta yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan juga Jakarta Timur. Tempatnya juga tidak terlalu jauh dari jalan tol Sunter, Campaka Mas dan Rawamangun, sehingga akses jalannya pun tidak akan menyulitkan. Konsep hijau juga akan sangat terasa karena 80% ruangannya adalah ruang terbuka dengan proses pengelolaan lingkungan yang akan terus berkelanjutan.

Permasalahan yang menimpa tidak akan berpengaruh terhadap pembenahan yang terus dilakukan. Bahkan pada tahun 2017 pernah ada ide pajak kemacetn positif untuk pertumbuhan hunian vertical. Sebelumnya memang masalah yang terlibat memang berhubungan dengan regulasi pemerintah mengenai hunian apartemen yang belum terlalu jelas dan teratur.

Jeffry Yamin selaku Marketing Director Green Pramuka City juga menanggapi hal tersebut bahwa pengenaan pajak kemacetan atau congesti price yang dilakukan pada sejumlah jalan utama menjadi pilihan tepat karena bisa membatasi masuknya jumlah pengguna jalan utama di jam-jam tertentu.

Karena memang selain pajak bisa dijadikan subsidi, pajak juga bisa sangat berguna untuk sistem transportasi yang massal sehingga hal tersebut bisa lebih mendorong masyarakat untuk mendapatkan hunian yang saling berdekatan di lokasi kerja mereka.

Bahkan dengan adanya pajak wajib, ini juga bisa menjadi salah satu pilihan masuk akan bagi mereka yang memiliki untuk tinggal di kawasan hunian vertical yang jaraknya tidak jauh dengan tempat kerja atau juga membatasi geraknya dengan tinggal di hunian vertical yang dibangun oleh konsep one stop living.

Dengan adanya konsep stop living juga para penghuni tidak perlu lagi terlalu banyak menghamburkan waktu agar bisa menuju lokasi perbelanjaan menggunakan kendaraan untuk mempengaruhi kemacetan di wilayah Ibu Kota kemudian ditambah berebutnya parkir kendaraan yang memang tidak murah. Di sisi lain juga dengan berada di kawasan yang terpadu tempat tinggal, pusat bisnis yang sudah terintegasi dengan beberapa titik transportasi masal akan dengan langsung bisa mengurangi keinginan untuk bisa mempunyai kendaraan secara pribadi.

Bila melihat masyarakat kota besar dan juga generasi millenial sudah cenderung lebih ingin hidup praktis dan memiliki kegemaran untuk bisa menyisihkan uang mereka untuk kesehatannya agar bisa menghibur diri dengan olahraga dan juga piknik. Itulah kenapa sejak awal hunian ini sudah dibangun dengan konsepnya one stop living.

Pembenahan disertai dengan peraturan pemerintah yang semakin baik akan membuat Green Pramuka City semakin berkembang. Masalah-masalah yang ada sudah kembali bisa diatasi tanpa menimbulkan masalah yang lebih besar lagi. Gaya hidup serta kebutuhan tempat tinggal Anda akan benar-benar bisa terpenuhi dengan tinggal di kawasan ini.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of